[ Film Review ] Moonlight (2016)






Mendapatkan lima nominasi di Golden Globes kemarin, bahkan berhasil memboyong penghargaan Best Motion Picture - Drama, membuat saya tertarik dan penasaran terhadap film arahan Barry Jenkins ini. Apalagi mengingat film ini nampaknya tidak akan muncul di bioskop di Indonesia dalam waktu dekat ini membuat saya akhirnya memutuskan menonton film ini lewat versi screener-nya, dan jelas saya menyesal telah melakukan hal tersebut. Tentunya bukan karena kualitas film ini yang tidak perlu dipertanyakan lagi, pantas mendapat penghargaan tersebut, melainkan karena rasa bersalah saya telah menonton versi "bajakan" nya. Tapi tentunya saya tidak dengan senang hati akan menonton lagi film ini jika sudah keluar di bioskop nanti. Film ini sendiri bercerita tentang Chiron, perjalanan hidupnya dari kecil hingga dewasa dan juga perjuangannya menyesuaikan diri di lingkungannya. Seperti biasa, saya tidak akan terlalu membahas cerita untuk menghindari spoiler, semoga saja.

Film ini sendiri terbagi menjadi tiga bagian, yang masing masing berjudul "Little", "Chiron", dan "Black" yang ketiganya merupakan nama panggilan dari tokoh utama film ini. Masing-masing bagian menceritakan fase fase kehidupan Chiron dari kecil, remaja, dan dewasa dengan perubahan yang terjadi padanya, juga permasalahannya, dan juga lingkungan sekitarnya secara konsisten. Di masing masing bagian ini, Chiron diperankan oleh tiga pemeran yang berbeda, seperti yang bisa dilihat di poster film ini.

Dengan tiga bagian tersebut "Moonlight" berhasil menggambarkan Chiron yang merupakan seorang African-American dengan baik, dengan setiap permasalahannya, dengan ibu nya, para pembully, hingga kembali ke dirinya sendiri. Menarik juga bagaimana dua (atau tiga) figur penting disini yaitu Juan, Theresa, dan Kevin ( yang juga diperankan oleh tiga orang ) menjadi orang orang penting yang berandil terhadap transformasi dari Chiron. Film ini juga membawa tema yang bisa dibilang cukup tabu di negara kita (homoseksual). Walaupun begitu, berhasil dibawakan dengan baik tanpa perlu menampilkan adegan-adegan vulgar, bisa dibilang hal yang tabu tersebut berhasil dibawakan dengan pas sehingga tidak akan terlalu terasa awkward untuk ditonton.




Faktor faktor paling menarik dari film ini adalah akting dan dialog-dialog yang solid. Semua pemeran disini berhasil bermain dengan sempurna, terutama Juan yang diperankan oleh Mahershala Ali, yang walaupun hanya mendapat screen time yang bisa dibilang sedikit disini, namun sangat membekas, bagi Chiron, dan juga penonton. Selain itu akting dari ketiga pemeran Chiron juga patut diacungi jempol, bagaimana dengan ketiga pemeran yang berbeda tersebut berhasil menampilkan dengan sempurna transformasi dari Chiron. Selain itu juga ketiga pemeran tersebut (Alex R. Hibbert, Ashton Sanders, Trevante Rhodes) juga berhasil menampilkan hal yang tidak berubah dari Chiron, seperti ekspresi, tatapan sedih dengan sempurna. Tentunya hal ini juga buah hasil dari arahan apik dari Barry Jenkins.

Selain itu, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, faktor lain yang menarik adlaah dialog-dialog dalam film ini, dimana mengalir dengan sempurna dan nyata, menggambarkan dengan baik perubahan-perubahan yang terjadi pada setiap karakter. Plot dari film ini sendiri sebenarnya tidak terlalu spesial, tidak ada twist, bagian melankolis yang dipaksakan, semua mengalir apa adanya dengan sempurnya, layaknya kehidupan nyata dengan permasalahan permasalahan yang dinamis, hal itu bisa dibilang menjadi nilai plus tersendiri dari film ini. Selain itu secara visual pun film ini tak kalah menakjubkan, dengan gaya yang khas tentunya, ditambah dengan scoring yang tak kalah bagusnya dengan tepat barpadu mengiri keberjalanan film ini.

"Moonlight" diakhiri dengan adegan yang sangat sederhana, bahkan saya sempat membuat saya bingung. Namun setelah dipikir pikir, adegan terakhir tersebut merupakan penutup yang sangat tepat untuk film ini, yang akhirnya mengembalikan kita semua lagi ke pertanyaan, siapakah, apakah diri kita, Chiron, sebenarnya? walaupun jawabannya tentu tidak akan pernah kita temukan, karena justru disitulah poinnya bukan, penemuan jati diri adalah perjalanan panjang yang berlangsung seumur hidup. Film ini berhasil diracik dengan porsi yang pas, sempurna oleh Barry Jenkins. Tanpa perlu berlebihan, dengan sederhakna film ini berhasil menggambarkan kehidupan. Rasanya  wajar jika film ini digadang gadangkan menjadi salah satu film terbaik di tahun 2016. Saya sendiri memberi film ini nilai 9/10. Semoga saja di tahun ini akan banyak ya film film seperti ini dan juga semoga film ini berhasil meraih penghargaan yang sepantasnya didapatkan di Oscar nanti.
Share on Google Plus

About otongmas

0 comments:

Post a Comment